WASHINGTON – Dua ilmuwan mengumumkan penemuan terbaru mereka, tiga spesies buaya kuno yang ditemukan di Niger.Paul Sereno dari University of Chicago dan Hans Larsson dari McGill University menemukan buaya yang diberi nama Kaprosuchus saharicus sepanjang 6 meter dan memiliki tiga pasang taring mirip taring babi hutan. Menurut mereka, jutaan tahun lalu jenis buaya ini menjelajahi wilayah Afrika utara.

Tak jauh dari situ, ditemukan pula buaya lain bernama Laganosuchus thaumastos. Buaya ini memiliki moncong lebar dan datar. Mereka umumnya mencari makan dengan berburu ikan. Selain buaya bermoncong lebar, di wilayah itu juga terdapat buaya Araripesuchus rattoides berukuran panjang satu meter. Buaya ini memiliki jenis gigi seperti tikus dan senang memakan ulat serta tumbuh-tumbuhan.

“Penemuan spesies ini membuka jendela kita akan dunia buaya yang hidup di bagian utara benua itu,” kata Sereno seperti dikutip dari Associated Press, Jumat (20/11/2009).

Menurut para peneliti, spesies buaya tersebut dapat bergerak lincah saat mengejar mangsa di daratan maupun ketika menyelam di air.

“Bakat amphibi mereka di masa lalu menjadi kunci untuk memahami bagaimana mereka bisa berlari dan selamat pada zaman dinosaurus,” ujar Sereno.

Sereno menambahkan, meski mereka tidak bisa berlari seperti seekor kuda, namun jenis buaya ini bisa bergerak cukup cepat. Selain menemukan tiga spesies buaya baru, Sereno dan Larsson juga menemukan fosil dua spesies buaya yang pernah ditemukan sebelumnya yaitu Anatosuchus minor dan Araripesuchus wegeneri.

Kedua buaya ini sama-sama ditemukan di Niger dan memiliki ukuran panjang sekira satu meter. Perbedaannya, Anatosuchus minor memiliki moncong lebar dan hidung mirip pinokio. Spesies ini memangsa ikan, kodok, dan ulat serta memiliki sensor khusus pada ujung moncong untuk mencari mangsa di air dangkal. Sedangkan Araripesuchus wegeneri memiliki hidung seperti hidung anjing dan senang memakan tumbuhan.

SUMBER